Tag Archives: jiwa

Dahsyatnya Ulama Salaf Mengkaji Shalat Sebagai Obat

Ketika berbicara manfaat kesehatan yang didapat dari shalat maka sudah selayaknya menelisik kembali hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radiyallahuanhu di mana Rasulullah ﷺ memerintahkan beliau t untuk sholat tatkala beliau mengadukan perutnya yang sakit.

Para ulama berpendapat setidaknya ada dua faedah dari hadits riwayat Ibnu Majah dimana Abu hurairah  mengatakan, “Rasulullah melihatku sedangkan aku tidur melingkar karena sakit perut, lalu beliau berkata, asykam darda? Aku menjawab, betul wahai Rasulullah. Beliau berkata, bangunlah lalu shalat karena shalat adalah obat.”

Pertama adalah bahwasannya Nabi ﷺ pernah berbicara bahasa Persia. Kedua, bahwa shalat mengobati sakit hati (liver) dan lambung serta usus.

Dalam kajian sholat sebagai obat bagi perut yang sakit, para ulama mengungkapkan setidaknya ada beberapa alasan. Pertama, urusan ilahi yang merupakan ibadah, kedua urusan jiwa, itu karena jiwa yang merasa sakit terhibur dengan shalat dan berkurang merasakannya lalu munculah kekuatan yang mengalahkan rasa sakit.   Baca lebih lanjut

Lambung, Pengolah Makanan Jasad dan Ruh

lambung

“Pencegahan adalah inti pengobatan. Lambung adalah rumah penyakit. Biasakanlah tubuh itu mengkonsumsi yang biasa dikonsumsinya.” (Harits Bin Kaladah – Zadul Maad)

Lambung (Al Janib) dapat menjadi sarang penyakit karena ia adalah tempat awal pencernaan. Di situlah nutrisi diolah, lalu disalurkan ke usus dan seluruh tubuh. Tanpa lambung, seseorang perlu makan enam kali sehari dan bukannya tiga kali. Letak lambung terkurung di tengah perut namun lebih condong ke kanan sedikit, tepatnya di bawah diafragma (sekat antara rongga dada dan rongga perut) dan di depan pankreas.

Lambung yang berbentuk menyerupai kantung kulit lentur berleher panjang dapat mengembang dan mengecil jika kosong. Lambung adalah bagian dari saluran pencernaan yang dapat mekar paling banyak. Besaran lambung rata-rata mampu menampung 1,5 liter makanan. Bagian luar lambung tampak mengkilat dan berwarna merah muda, sedangkan permukaan dalamnya bergelombang mengkilat.

Pencernaan di lambung berbeda dengan pencernaan di mulut. Ketika makanan dicacah oleh gigi dan dilumasi oleh air liur, maka terjadilah pencernaan secara mekanis. Sedangkan proses kimiawi terjadi ketika air liur yang melumasi makanan mengubah zat pati seperti nasi menjadi gula. Makanan yang telah dikunyah kemudian ditelan melalui  kerongkongan sejauh 25 sentimeter. Perjalanan makanan di kerongkongan yang dibantu oleh gravitasi dan otot polos di balik leher ini memerlukan waktu sekitar 12 detik. Kecepatan dalam mengunyah dan menelan turut mempengaruhi banyaknya udara yang terperangkap masuk ke dalam lambung. Oleh sebab itu, mengunyah makanan dengan terburu-buru dapat mengakibatkan banyak bersendawa. Baca lebih lanjut