Tag Archives: andewi

Mengenal Sayur Hindiba dan Manfaatnya (Bagian II/Habis)

1-131Hindiba adalah tanaman yang unik, karena sifatnya yang dapat berubah karena pengaruh musim. Sebagaimana diketahui, di masa kejayaan Islam penyeleksian obat-obatan didasarkan pada sifat alamiahnya, apakah panas, dingin, lembab atau kering dan disertai dengan tingkat kepanasan atau dinginnya. Sifat alamiah sangat penting diungkap karena akan menentukan efek terapi.

Semua literatur lampau sepakat bahwa sifat alamiah hindiba adalah dingin dan lembab. Menurut Ibnu Sina hindiba adalah dingin dan lembab di level tertinggi pada tingkat pertama. Walaupun dikatakan bahwa hindiba adalah dingin dan lembab pada tingkat pertama, beberapa orang mengatakan hindiba dari jenis tertentu condong kering di tingkat kedua dan beberapa jenisnya dikatakan juga panas. Baca lebih lanjut

Mengulas Lebih Dalam Hadits Tentang Hindiba (I)

andewi

andewi

Bermula ketika redaksi menemukan literatur tentang penggunaan Hindiba pada masa kejayaan Turki Utsmani, maka kami pun mulai melakukan investigasi untuk menggali manfaat hindiba sebagai bagian dari perbendaharaan dalam Ath-Thibbun Nabawi. Pada pembahasan pendahuluan, redaksi sempat mengutarakan hadits tentang Hindiba. Hadits lain tercantum dalam silsilah hadits dha’if dan maudhu karya Al-Syaikh Nashiruddin al-Albany sebagai hadits maudhu. Kini, redaksi akan mengulas lebih dalam tentang apa dan bagaimana tanaman hindiba tersebut.

“Hendaklah kalian menggunakan al-Hindiba, karena sesungguhnya tidak sehari pun kecuali pastilah tertetesi tetesan dari surga.”

Shaikh Nashiruddin al-Albany menyebutkan derajat hadits ini adalah maudhu’. Hadits tersebut telah dikeluarkan oleh Abu Naim dalam ath-thibb dengan sanad dari Muhammad bin Abi Yahya, dari Shalih bin Sahl, dari Musa bin Mu’adz, dari Umar bin Yahya bin Abi Salamah, dari Ummu Kultsum binti Abi Salamah, dari Ibnu Abbas r.a. Menurut Syaikh, sanad hadits ini sangat lemah, sebab Musa bin Mu’adz dan Umar bin Yahya telah dinyatakan dha’if oleh ad-Daruquthni. Bahkan oleh Abu Naim sendiri, Umar bin Yahya dinyatakan sebagai perawi sanad yang ditinggalkan atau tidak diterima riwayatnya oleh pada ahli hadits.

Lebih lanjut Syaikh menandaskan, adapun mengenai rijal (perawi) sanad yang di bawah keduanya tidaklah dikenal, alias majhul. Bahkan as-Suyuthi dalam kitabnya, al-Aali, menyatakan bahwa semua rijal sanad riwayat ini adalah rusak. Baca lebih lanjut