Socotra, Penghasil Ekstrak Lidah Buaya Terbaik (Bag. I)

Pulau Socotra

Pulau Socotra

Socotra sering disebut sebagai pulau alien, mengingat habitatnya yang mengingatkan pada imajinasi kehidupan yang ada di planet lain. Ya, Socotra atau Soqotra atau juga Suqutra memiliki luas pada pulau utamanya sekitar 3.625 Km2, atau hampir lima setengah kali ukuran dataran Singapura.

Walau demikian, Socotra jarang sekali penduduknya, mengingat keberadaan pulau ini meskipun jadi bagian dari Negara Yaman namun letaknya cukup terisolir, terpencil dan kondisi cuaca yang sulit seringkali menghambat jalur lalu-lintas dari dan menuju pulau tersebut. Letak yang terisolir menyebabkan Socotra memiliki habitat yang berbeda dari daratan besar semenanjung Arabia.

Nama Socotra disebut-sebut berasal dari bahasa Sansekerta, ‘Sukhadhara Dvipa’ yang berarti “Pulau Kebahagiaan.” Sumber lain mengatakan juga Socotra berasal dari bahasa Arab yaitu “Suq” yang berarti “Pasar” dan “Qotra” yang berarti “Tetesan Frankincense.” Ya, Socotra sejak masa silam terkenal sebagai penghasil Frankincense atau kemenyan yang digunakan untuk pengharum rumah dan obat.

Socotra secara geografis lebih mendekati tanduk benua Afrika daripada semenanjung Arab. Socotra sebenarnya merupakan gugusan kepulauan dengan Pulau Socotra sebagai pulau utama. Sementara tiga pulau kecil lainnya bernama pulau Abd Al-Kuri, Samha dan Darsah. Secara keseluruhan kepulauan Socotra memiliki panjang sekitar 130 Km dan lebar sejauh 30 Km.

Puncak tertinggi di pulau Socotra adalah pegunungan Haghier (جبال حجيره) yang terdiri atas batu kapur dan terdapat bua karst dengan ketinggian 1500 meter dari permukaan laut. Sedangkan iklim di pulau Socotra diklasifikasikan sebagai iklim Koppen dengan suhu tahunan rata-rata di atas 18 derajat Celsius. Socotra didiami penduduk sekitar 70.000 jiwa dengan bahasa dan budayanya sendiri yang berbeda dengan dengan bangsa Arab lainnya.

Pendatang dari Afrika banyak mendiami pesisir dan bekerja sebagai nelayan, sementara kawasan lembah banyak dihuni oleh penduduk nomaden (tidak menetap) yang berasal dari Arab, sedangkan daerah pegunungan dihuni oleh keturunan yang merantau dari suku Arab Selatan tua yang masih berbicara dengan logat Arab tua Socotri. Dialek Arab tua Socotri memiliki kaitan dengan dialek Mahri (Mahra) atau bahasa lain dari tradisi Yaman kuno.

Menurut kajian geologis, Socotra telah terisolasi sejak beberapa juta tahun lalu. Kondisi ini akhirnya mengakibatkan banyak tumbuhan dan hewan yang mendiami Socotra tidak dapat ditemukan di tempat lain di bumi ini. Sekitar sepertiga dari hewan dan tumbuhan yang mendiami pulau Socotra hanya dapat ditemukan di pulau tersebut. Inilah alasan mengapa hingga saat ini Socotra tetap menjadi bagian yang menarik sekaligus misterius di bumi ini.

Dragon Blood Tree

Dragon Blood Tree

Namun demikian, pulau Socotra telah dikenal oleh berbagai bangsa sejak masa silam. Berbagai tumbuhan penghasil material obat yang bernilai ekonomi tinggi seperti Myrrh (Commiphora myrrha), Frankincense (Boswellia serrata) dan Pohon Dragon Blood (Dracaena cinnabari) menjadi komoditas yang berasal dari pulau Socotra. Pada masa lalu, pohon Dragon Blood (Darah Naga) adalah unsur penting untuk membuat berbagai jenis perwarna yang digunakan untuk pernis biola dan tinta di seluruh dunia.

Delima Socotra

Delima Socotra

Sementara komoditas lain yang hanya ditemukan di pulau Socotra adalah Lidah Buaya liar Socotra (Aloe perryi) penghasil Gaharu Socotra, mentimun Socotra (Dendrosicyos socotranum), dan Delima liar Socotra (Punica protopunica).

Pohon Darah Naga menghasilkan resin yang pada masa silam dipergunakan untuk berbagai keperluan seperti minyak pernis, pewarna, dan obat berbagai macam penyakit. Saat ini resin dari pulau Socotra dipasarkan dalam kisaran 650 SR (Riyal Saudi)/ per kilogram.

Sementara ekstrak lidah buaya Socotra diketahui sebagai ekstrak lidah buaya termahal yang dijual di Arab Saudi, yaitu dengan kisaran 120 SR (Riyal Saudi)/ per kilogram. Tak ayal ekstrak lidah buaya terbaik di dunia berdasarkan pendapat ahli masa silam seperti Ibnu Sina, Imam Adz-Dzahabi dan sebagainya adalah ekstrak lidah buaya Socotra yang dihasilkan dari lidah buaya Socotra atau Aloe perryi.

Aloe de socotra

Aloe de socotra

Imam Adz-Dzahabi berkata, “Shabir adalah tumbuhan yang dipanen, diperas dan dibiarkan sampai mengering. Shabir paling bagus diambil dari Suqthari pulau di pantai Yaman. Sifatnya panas kering termasuk tingkatan kedua, menolak bahaya obat-obatan jika bercampur denganya. Bermanfaat untuk bengkak di pelupuk mata, dapat membuka sumbatan hati, menghilangkan penyakit kuning dan bermanfaat untuk bedak luka lambung.” (Bersambung…)

JR/TB

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s