Belum Tentu Kepala yang Sakit

migrain

Sakit kepala saat ini telah menjadi problematika yang umum bagi sebagian besar masyarakat. Banyak pula masyarakat masih mengandalkan obat-obatan yang bersifat analgesik (pereda rasa nyeri) sebagai solusi andalan bagi penanganan sakit kepala. Tapi, tahukah anda bahwa pemberian obat nyeri yang terkadang cenderung berlebihan bukanlah solusi yang baik bagi tubuh. Perhatikanlah apa yang diungkapkan oleh Paracelsus berikut ini : Dosis sola fecit venenum (dosis yang menentukan sesuatu menjadi racun). Apakah bijak jika setiap hari kita mengkonsumsi pereda nyeri secara berlebihan? Selain efek samping, terjadinya resistensi atau bahkan justru permasalahan yang sebenarnya menjadi pemicu timbulnya sakit kepala menjadi permasalahan yang semakin serius. Dalam kasus terakhir, sebenarnya yang sakit bukanlah kepala, tapi organ lain yang menjadi pemicunya.

Sakit kepala seringkali tidak berdiri sendiri, tapi merupakan sebuah gejala dari perubahan kondisi tubuh yang terlalu ekstrim atau menjadi gejala dolor (nyeri) yang mengikuti pada berbagai peradangan. Pemicu kepala seringkali bukan berpangkal di kepala namun adanya kaitan erat antara syaraf suatu organ yang memiliki hubungan secara sensorik dengan syaraf yang berada di kepala. Jika seperti ini apakah layak kita terus menerus menekan rasa sakit yang sebenarnya hanya gejala dan justru malah membuat kita tidak merasa bahwa salah satu organ kita telah bermasalah menjadi lebih serius.

Mari kita perhatikan lagi secara lebih mendalam berbagai faktor yang menjadi pencetus timbulnya sakit kepala agar kita menjadi lebih bijak memilah dalam penanganan sakit kepala. Terlebih sebenarnya Islam telah mewariskan berbagai solusi jitu untuk menangani problem sakit kepala yang biasa dialami oleh masyarakat kebanyakan dan hal itu baiknya tidak kita lupakan begitu saja.

Sakit kepala yang secara medis dikenal sebagai cephalalgia atau dilafalkan cephalgia adalah suatu kondisi terdapatnya rasa sakit di dalam kepala. Sakit kepala dibedakan kepada dua tipe, yaitu sakit kepala primer dimana sakit kepala ini ditimbulkan bukan karena penyakit, tetapi karena dipicu oleh rasa khawatir/takut, sedih, waswas, marah, dan sebagainya. Rasa sakitnya terasa mulai dari bagian belakang kepala hingga leher bagian atas, seolah-olah di sekeliling kepala hingga alis diikat erat oleh topi yang kekecilan (sakit kepala tension). Permasalahan pada sakit kepala tipe ini adalah pada pengendalian ketegangan psikologis.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam pernah bersabda kepada salah seorang sahabat yang meminta nasihat. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya mengucapkan “La Taghdob (Jangan Marah)” sebanyak tiga kali. Artinya kondisi marah, sedih, cemas, stress, dan lainnya yang bersifat menekan jiwa dapat memicu sekresi hormon di kelenjar hypothalamus dan adrenalin, memicu sekresi asam lambung, yang semuanya menyebabkan penumpukan panas berlebih di kepala sehingga menyebabkan sakit kepala. Pada keadaan demikian dapat dinilai bahwa peredaan rasa sakit (tindakan prefentif) adalah kesabaran dan keikhlasan menghadapi tekanan hidup “Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang bersabar.”(An-Nahl:126).

Ibnu Qoyyim menyebutkan, bahwa ada kaitan antara otak dan jantung dimana jantung bersifat panas sedangkan otak bersifat dingin. Apabila jantung bekerja melebihi kapasitas normal, seperti dalam tertekan, waswas, marah maka akan terjadi panas berlebih yang akan menaikkan suhu otak yang bersifat dingin dan lembab. Kelembaban yang terpanasi akan menguap dan menuntut volume yang lebih besar akibatnya terjadilah sakit kepala. Dalam kondisi seperti ini pelepasan panas berlebih dengan berbekam adalah upaya terbaik.

Kondisi sakit kepala lain adalah tipe sekunder dimana sakit kepala yang dipicu oleh faktor peradangan atau infeksi pada organ-organ tertentu. Sakit kepala tipe skunder dapat terjadi ringan atau pun berat.

Kebanyakan jenis migrain (sakit kepala sebelah) terjadi karena sakit kepala yang bersifat sekunder. Contoh mudah adalah apabila terjadi infeksi gastritis(lambung) semisal ulcus pepticum, appendiksitis (infeksi usus buntu), Alergi terhadap makanan atau minuman tertentu seperti keju, wine(khamr) maka penderita akan merasa pusing. Dalam kasus seperti ini maka cara yang terbaik adalah dengan mengobati sumber sakit yang berasal dari lambung.”Tidak ada bencana yang lebih buruk yang diisi oleh manusia daripada perutnya sendiri…”(H.R. At-Tirmidzi).

Dari uraian di atas jelaslah bahwa tidak selamanya sakit kepala dikarenakan kepala yang benar-benar sakit, walaupun ada kasus-kasus tertentu seperti peradangan otak, kasus meningitis yang memang menyerang otak sehingga terjadi sakit kepala.

Namun, seringkali kita melupakan kesehatan pola hidup kita, pola makan kita, cara kita mengkonsumsi obat yang mungkin bisa menjadi penyebab terjadinya sakit kepala. Apabila jiwa kita sakit, banyak termenung, banyak bersedih dan berputus asa sehingga mengurangi waktu tidur, mengurangi porsi makan (kasus anorexia) maka, apakah pantas kita lebih menyiksa tubuh kita dengan menelan berbutir-butir obat pereda nyeri, bahkan obat hipnotik/sedative untuk menghindari rasa sakit di kepala, ataukah kita lebih dapat menjadikan sab
ar sebagai obat? Wallahu ‘alam bishawwab.

Oleh : Joko Rinanto

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s